Bandung punya cerita unik hari ini. Seorang penjual roti bernyanyi lagu Rhoma sambil menatap layar Mahjong Wins 3. Scatter datang berturut, angka di saldo melonjak, dan keputusan bisnis berubah cepat.
Ia tak menuding keberuntungan sebagai satu-satunya faktor. Ritme napas, lagu, dan disiplin anggaran disebutnya kunci. Cerita ringan ini berhenti di titik ketika rencana franchise mendadak masuk akal.
Layar sempat sunyi beberapa putaran. Ia mengganti tempo lagu ke bagian reff yang familiar. Tidak lama, simbol Scatter menempel tiga kali dan memicu putaran tambahan.
Ia menyebut momen itu hasil dari fokus yang tidak terpecah. Bukan kebetulan total, katanya, melainkan buah dari batasan waktu yang ia pegang. Ketika layar selesai menghitung, totalnya menunjukkan Rp97 juta.
Roti yang ia panggang subuh selesai tepat sebelum siang. Di sela menunggu pesanan, ia mengendurkan pundak sambil bersenandung. Ruang kecil itu jadi panggung mini yang menenangkan kepala.
“Saya nyanyiin bait ‘Begadang’ pelan biar tegangnya turun,” ucap Raka, penjual roti asal Bandung. “Tak kepikiran Scatter masuk, angka di layar bikin lutut goyah.” Ungkapannya terdengar santai, namun matanya tetap waspada.
Setelah tenang, ia menutup layar dan mencatat rincian. Ia membagi dana untuk modal kerja, perawatan alat, dan peningkatan kemasan. Sisanya dialihkan menjadi biaya awal pembukaan gerai baru.
Lokasi incarannya berada di kompleks DOME234. Arus pengunjung akhir pekan dinilai cocok untuk roti rasa keju dan cokelat. Ia juga menyiapkan pelatihan singkat bagi dua karyawan yang akan ditempatkan di gerai perdana.
Raka menulis aturan sederhana di buku catatan. Batas durasi, batas dana harian, dan jeda wajib masuk daftar. Jika satu syarat dilanggar, aktivitas dihentikan, tanpa tawar-menawar.
Kebiasaan itu ia bangun dari pengalaman kios yang dulu sempat rugi. Ia belajar menjaga ritme agar keputusan tidak dipicu emosi. Prinsip yang sama ia bawa saat menimbang perluasan usaha roti.
Raka menegaskan daftar ini bukan janji hasil, melainkan catatan kebiasaan. Ia memakainya untuk menjaga ritme dan menata ekspektasi. Setiap daftar disertai alasan singkat agar mudah diingat.
Raka berulang kali menyebut disiplin sebagai pagar terpenting. Ia memilih berhenti ketika tanda tidak sehat muncul. Tidur cukup, makan teratur, dan menyelesaikan pesanan pelanggan tetap nomor satu.
Lingkungan kerja di dapur menuntut ketelitian. Setiap keputusan di luar pekerjaan utama harus melewati filter kewarasan. Cara itu membuat jadwal produksi tidak berantakan.
Gerai diproyeksikan berbentuk kios sudut dengan etalase kaca. Raka ingin aroma roti pertama keluar pukul delapan pagi untuk menangkap arus kantor. Uji coba kedua dilakukan menjelang malam, mengejar pengunjung yang pulang dari bioskop.
Ia menyiapkan oven cadangan dan adonan beku agar pasokan stabil. Bahan utama dipasok dari mitra lama supaya rasa konsisten. Catatan produksi harian disusun rapi untuk memetakan jam terpadat dan selera pelanggan yang berubah sepanjang minggu.
Raka mengakui pencatatan kecil membuat kepala jernih. Ia menulis durasi, jeda, dan momen berhenti agar tidak terjerat euforia. Jurnal sederhana itu ia gunakan ulang saat menimbang biaya sewa dan skema kerja karyawan.
Ia juga sadar bahwa suara bisa mempengaruhi ritme. Lagu dangdut yang ringan dijadikan alat bantu fokus, bukan pengalih yang menumpulkan keputusan. Ketika ritme tubuh dan jadwal produksi sinkron, hari terasa lebih tertata.
Rencana franchise berjalan bertahap, bukan serbuan. Ia mulai dari gerai kecil, menguji varian roti, lalu mengatur pasokan tepung. Evaluasi tiga bulan menjadi patokan naik kelas atau tetap bertahan.
Kisah hari ini ia simpan sebagai pengingat tentang fokus dan kendali diri. Bagi Raka, angka besar hanya berarti ketika berdampak pada keberlangsungan usaha. Lagu dangdut, roti hangat, dan catatan disiplin membuat jalur itu terasa stabil.