Ruang tunggu terminal sore itu tidak seramai biasanya. Seorang sopir bus Yogyakarta menata napas, menyetel lagu dangdut, lalu menekan tombol mulai pada game yang ia favoritkan.
Ia menyebut pendekatannya sebagai teknik hoki mahjong ways, bukan jaminan, tetapi cara untuk menjaga ritme dan akal sehat. Koordinasi tangan yang terbiasa memutar setir membantu fokusnya.
Di sela jeda, ia bernyanyi membawakan tembang Inul dengan gaya penuh energi. Suasana santai itu menjadi sandaran mentalnya. Ia berkata, hasil tidak selalu mulus, namun kestabilan ritme penting.
Rutinitasnya sederhana: selesai trayek, ia mampir ke tempat karaoke dekat pool. Bagi dia, mikrofon dan layar menjadi penyeimbang setelah rute panjang. Nada tinggi membantu menurunkan ketegangan yang menumpuk.
Di momen tenang itulah ia membuka aplikasi melalui DOME234. Aksesnya praktis, tanpa seremoni yang berlebihan. Ia hanya perlu jeda yang pas dan suasana yang ramah di telinga.
“Saya tidak mengejar sensasi,” ujarnya pelan. “Saya mengejar konsistensi waktu, dan berhenti begitu target harian tercapai.” Ia menegaskan, keputusan berhenti seringkali lebih sulit daripada memulai.
Ia membagi sesi menjadi paket pendek. Jika ritme layar terasa tidak sejalan, ia rehat dan kembali bernyanyi. Pendekatan itu membuat emosi tidak mengambil alih kendali.
Target bukan angka fantastis, melainkan capaian realistis yang bisa diukur. Beberapa hari biasa, beberapa hari membahagiakan, dan ada hari hening. Catatan kecil di ponsel membantunya mengecek kebiasaan.
Ia menolak dorongan untuk menambah durasi saat grafik kurang ramah. Pilihan berhenti adalah bagian dari teknik. Ia menyebutnya disiplin sederhana yang menyelamatkan dompet.
Daftar di atas bukan rumus saklek. Ia menggunakannya sebagai panduan agar durasi tidak melebar kemana-mana. Kunci utamanya tetap berada pada jeda, napas, dan ketegasan berhenti.
Menurutnya, musik dangdut membantu menjaga mood tetap hangat. Saat nada naik, ia justru menurunkan ambisi. Irama menjadi pagar agar keputusan tetap waras.
Pada suatu malam yang sunyi, catatan ponsel menampilkan total akumulasi yang mengejutkan: Rp116.000.000. Ia tidak mengumbar kabar itu di grup. Ia memilih berdiskusi dengan keluarga terlebih dahulu.
Rencana berikutnya jelas: menyiapkan uang muka untuk bus yang lebih nyaman. Ia mencari kabin yang lega, kursi empuk, dan peredam suara mumpuni. Baginya, peningkatan kenyamanan penumpang adalah investasi reputasi.
“Transportasi itu soal aman dan nyaman,” katanya. “Kalau bisa menambah kualitas, saya akan atur cicilan dengan tertib.” Ia memahami, pendapatan harian tetap menjadi dasar penentu keputusan.
Ia mengenal game ini dari obrolan sesama awak. Sebagian ikut mencatat pola, sebagian lagi hanya menikmati suasana karaoke. Tidak semua orang punya kebiasaan yang sama, dan itu wajar.
Pengalaman setiap orang berbeda. Ia menekankan pentingnya kontrol waktu, batas harian, dan tidak terburu-buru. DOME234 baginya hanyalah pintu masuk, bukan panggung pencitraan.
Ia juga menolak ajakan pamer. Dokumen pembelian akan diumumkan setelah prosesnya matang. Langkah-langkahnya dibuat senyap agar tetap fokus bekerja.
Ia menghormati aturan setempat dan bertumpu pada pendapatan kerja utama. Aktivitas layar hanyalah pelengkap, bukan poros kehidupan. Skala prioritas keluarga selalu ditempatkan paling depan.
Kisah ini menyingkap dua hal: menjaga ritme dan menjaga jarak dari ambisi sesaat. Tekniknya menggabungkan jeda, musik, dan batas yang tegas. Semuanya dilakukan tanpa sorotan berlebihan.
Jika ada manfaat yang terasa, itu datang dari kebiasaan yang tertata. Ritual ringan membantu pikiran lebih jernih ketika mengambil keputusan. Rencana upgrade bus menjadi buah dari perhitungan yang hati-hati.
Narasi ini tidak mengundang euforia. Ia mengajarkan kewajaran, seleksi momen, dan keberanian berhenti. Bagi sopir bus Yogyakarta itu, kestabilan adalah kemudi paling penting.